Jumat, Januari 16, 2009

MENGELOLA KELUARGA : Gaya Pengasuhan Anak Yang Tidak Efektif

Di dalam mengasuh anak-anaknya orang tua memiliki gaya pengasuhan yang berbeda-beda, dan kebanyakan adalah gabungan dari berbagai gaya. Jika kedua orangtua tidak memadukan gaya pengasuhan anak-anak menjadi satu kesatuan yang koheren, hal ini tentu saja bisa menimbulkan ketegangan dalam keluarga. Ketika kita kesal, secara insting kita akan mengakui kalau kita termasuk ke salah satu kategori berikut :

1. Orangtua yang suka marah/frustasi.

Ketika anda marah/frustasi, maka yang terjadi adalah : anda tidak bisa mengendalikan emosi, sangat mungkin menggunakan hukuman fisik. Dan yang akan terjadi pada pasangan anda : menutup telinga, marah dan frustasi kepada anda karena telah marah dan frustasi, lantas meremehkan tingkah laku anda di belakang anda. Terbayang apa yang anak anda lakukan? Mereka akan menutup telinga, takut pada orang tuanya, merasa tidak dihargai, mengira amarah adalah solusi bagi berbagai masalah. Amarah adalah salah satu emosi yang menghancurkan. Orang tua yang tidak bisa mengatur amarah mereka memberi pesan yang menghancurkan jiwa anak-anak mereka.

2. Orangtua yang sering Menghindar.

Orangtua yang bekerja keras seharian seringkali kesal begitu pulang ke rumah dan mendapati rumah dalam keadaan berantakan, anak-anak yang tak terkendali dan sulit diatur. Sebagai pelampiasannya, orangtua seringkali menghindar karena ingin pulang ke rumah untuk tenang dan merasakan kedamaian. Ironisnya, dia tidak membantu melakukan apapun untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan itu. Menikah dengan seorang pria yang menghindar seperti ini bisa sangat menyulitkan bagi si ibu yang bekerja, yang punya pekerjaan dan ternyata juga harus mengurusi anak dan rumah tangga, sendirian. Orangtua yang menghindar semacam ini bukan hanya mengabaikan anak-anak mereka tetapi juga pernikahan mereka. Baik ayah atau ibu harus menjadi peserta yang seimbang di dalam pernikahan mereka dan ketika bersama anak-anak mereka. Bagi orangtua yang mengaku mereka tidak ingin ada di rumah untuk menghadapi kekacauan atau saling tuding, coba pandanglah situasi ini seperti sebuah masalah di tempat kerja. Mengasuh anak itu juga pekerjaan. Anda bisa menempatkan diri di posisi anak-anak dan rasakan bagaimana perasaan anda diteriaki atau diceramahi seperti itu oleh bos anda.

3. Kehabisan akal.

Terkadang orangtua berhenti melakukan apapun karena tidak tahu harus berbuat apa. Maka yang akan terjadi pada anak-anak adalah : memanfaatkan situasi, mangatur rumah. Para orangtua yang berkata kalau mereka kehabisan akal dan tidak tahu harus berbuat apa, sebenarnya dapat melakukan banyak hal. Hanya saja mereka melakukannya dengan cara yang salah.
Prinsip yang harus senantiasa dipegang orangtua :
- Jangan pernah melengserkan tanggung jawab peran anda sebagai orangtua. Berkata kalau anda kehabisan akal hanyalah sebuah alasan untuk tidak ingin melakukan pekerjaan berat membesarkan anak. Jangan hanya duduk mengeluh tentang ketidaktahuan anda.
- duduk bersama dan pikirkan apa yang anda inginkan untuk anak-anak anda, dan bagaimana melakukannya bersama. Mengaku anda tidak tahu apa yang harus dilakukan bukan alasan yang bisa diterima dari seorang manusia dewasa.

4. Tidak teratur/berantakan.

Sebagai orangtua anda tidak punya rutinitas jadi tidak satupun yang selesai dilakukan. Akibatnya anak-anak akan meniru : terus terlambat dan tidak teratur juga. Solusinya atur rutinitas, delegasikan tugas-tugas rumah dan benahi hal-hal yang berantakan dalam hidup anda.

5. Mencari-cari alasan.

Anda mencari-cari alasan bagi semua tingkah laku yang buruk dan sangat jarang mendisiplinkan anak-anak? Sebagai gantinya anak anda akan melakukan segala macam hal yang dia inginkan tanpa ada resiko hukuman, anak akan belajar mengadu domba orangtuanya serta merasa berhak untuk nakal kemudian menangis/merajuk sampai orangtua mengalah. Jika orangtua terus menerus mencari alasan dan mentolerir kenakalan anak maka tidak lama lagi anak-anak benar-benar tidak bisa dikendalikan. Menggemari kekerasan karena tidak adanya batasan di dalam rumah yang dikendalikan oleh orangtua yang gemar mencari-cari alasan adalah hal yang sangat berbahaya.

6. Bersuara keras

Peristiwa yang sering terjadi pada keluarga ini adalah orangtua yang berteriak, membentak dan menjerit. Anak yang tercetak dari keuarga seperti ini seringkali menutup telinga, takut pada orangtua yang berteriak, mengira kalau teriakan adalah solusi bagi masalah. Sebagian keluarga memang terlahir dengan suara yang keras. Mereka biasanya keluarga yang televisinya terus menyala sepanjang hari dengan suara yang hingar bingar dan anak-anak harus berteriak supaya suara mereka bisa terdengar. Keluarga seperti ini tidak sadar betapa berisiknya mereka. Berhenti berteriak memang butuh upaya yang penuh kesadaran diri. Tetapi bisa dilakukan. Daripada berteriak, cobalah berbisik. Jadi tidak akan ada yang mendengar anda kalu sedang menyumpah-nyumpah.

7. Cerewet/terlalu kritis.

Orangtua yang suka mencereweti anaknya mudah ditemukan dimana-mana. Mereka bahkan tidak mendengar apa yang telah dikatakan. Mereka hanya terus berceloteh seperti kelinci iklan baterai energizer, sampai semua orang kesal dan muak. Karena setelah cerewetan muncul akan muncul teriakan besar. Orang tua yang kelewat cerewet, mendesak, mengkritik dan menentukan standart yang terlalu tinggi akan menciptakan anak-anak yang : menutup diri di hadapan semua kritik, sangat kesal pada kritik, mulai sengaja gagal daripada berusaha memenuhi standar yang terlalu tinggi.
Orangtua yang seperti ini seringkali punya rumah yang teramat rapi, tidak ada satupun yang salah letak. Mereka menghabiskan begitu banyak energi menjaga penampilan sehingga mereka lupa kalau anak-anak yang tinggal disana lebih suka punya ibu yang mengabaikan sedikit kekacauan dan bermain mereka atau membantu mereka mengerjakan PR. Untuk bisa berhenti cerewet semacam itu coba rekam diri anda selama satu hari. Setelah anak-anak terlelap coba dengarkan diri anda mencabik-cabik anak anda. Percayalah, mereka dengar apa yang anda katakan, terutama hal-hal buruk, baik mereka memperhatikan anda atau tidak.

8. Meremehkan.

Orangtua adalah tim, karenanya tidak boleh ada yang merasa superior dari yang lain. Ketika si ayah mampu menelan tinggi hatinya dan belajar tidak terlalu mengatur dan merasa yakin dengan superioritasnya, dia mampu mengakui peran besar yang dimainkan istrinya.

SINDROM IBU MARTIR DAN IBU SUPER

Ibu martir (atau ayah martir) butuh merasakan tarikan pengorbanan untuk mendorong rasa harga diri mereka. Mereka cenderung suka mengatur_yang memungkinkan mereka merelakan kebutuhan mereka sendiri. Orangtua seperti itu takut melepaskan kendali karena mereka mengira hal itu berarti orang lain memenangkan apa yang telah mereka lepaskan. Orangtua tipe martir harus berusaha melepas tingkah laku merusak ini dan sadar kalau mereka, bukan anak-anak mereka yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan diri mereka sendiri. Ibu tipe martir biasanya juga jatuh dalam kategori ibu super. Ibu super harus menjadi sosok yang baik dan pengasih_walaupun mereka sering berteriak kepada anak-anak mereka. Mereka tidak mau berhenti mengendalikan. Mereka lapar perhatian dari anak-anak mereka, walaupun mereka juga kesal dengan segala rengekan dan anak-anak yang ribut. Ibu super biasanya tidak mengikutsertakan ayah sama sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar