
Jika dicermati ada banyak agenda menyangkut permasalahan kaum perempuan dan anak-anak di tanah air. Ada pertanyaan menggelitik yang mampir ke benak saya; emangnya sekian permasalahan tersebut bakal selesai jika saja seluruh anggota parlemen terdiri dari kaum hawa? Atau sebaliknya apakah mungkin permasalahan kaum hawa bakal selesai jika kita titipkan kepada kaum Adam untuk memecahkannya?
Jika saja para pejabat kita memegang pesan Rasulullah : Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluargamu dan akulah orang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku. Takkan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan takkan menghinakan perempuan kecuali seorang hina. Memuliakan perempuan bisa bermakna sangat luas : melindunginya, memperhatikan hak-haknya, menempatkannnya pada posisi mulia, memenuhi kebutuhannya, memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Dalam hal keterwakilan kaum perempuan di lembaga legistalif, ada dua posisi yang ditawarkan dan bakal ditempati oleh wakil kita di Lembaga Dewan yang terhormat. Yang pertama menawarkan dan akan menjadikan kaum perempuan sebagai simbol semata. Yang penting ada dulu, masalah kontribusi nanti sajalah. Yang kedua menjadikannya fungsional murni. Artinya keberadaan mereka dapat memberikan kiprah dan aktualisasi dari potensi diri serta mampu melaksanakan tugas-tugas sosial yang dibebankan.
Lantas apa bedanya? Ya Jelas beda... Kalo yang pertama hanya sekedar untuk memenuhi kuota saja, asal tak terkena tuding kelompok yang tak berpihak dan kurang akomodatif terhadap suara perempuan, sedang yang kedua menjatuhkan pilihan atas dasar kualitas diri sehingga dapat menjadi penyambung aspirasi konstituennya.
Ada sekelompok orang dari kita yang mulai putus asa dengan dinamika sosial yang ada sehingga membuat orang tersebut mengasingkan diri dalam sangkar emas dan mengabaikan peran sosial politiknya. Apa yang bakal terjadi masa bodohlah... merasa tak perlu menanggung beban resiko. Ibarat seperti bayi yang disukai semua orang, karena tak pernah membuat orang tersinggung dengan kritik atau koreksinya.
Sedangkan kelompok lainnya menggunakan ukuran kesenangan dan nikmat, yang mengukur semua dengan sepotong kalimat : Yang penting enak. Tak pelak lagi money politik, KKN dan serangan fajar dalam pemilu akan menemukan lahan suburnya disini. Jika kita perhatikan betapa terbiasanya rakyat kita dengan pembagian yang terkait dengan masalah perut. Visi, misi, kebijakan dasar partai serta program-programnya menjadi lorong gelap yang tak dipahami. Seperti itulah kualitas pemimpin yang akan memainkan selera rakyat. Karenanya menentukan pilihan (dalam pemilu) bukan hanya persoalan ikhtiar pribadi, tetapi menyangkut perubahan nasib seluruh bangsa.
Sebelum masuk ke bilik suara, Pesan saya : JANGAN ASAL PILIH. Pesan tambahan JANGAN ASAL PILIH CALEG PEREMPUAN. Lihat dulu siapa yang mengusung dan bagaimana kualitasnya. Ukuran yang paling mudah adalah : Jika saya pilih dia apakah dia bakal menjadi penyambung lidah saya???? Untuk saya yang kehilangan hak pilih gimana ya?? (Bukan karena saya mantan lho... tapi karena pindah domisili makanya gak kedaftar). Saya titipkan hak saya pada anda ya ...